Minggu, 11 Juli 2021

coffee shop dengan konsep tradisonal x modern


 

Coffee Shop berasa dirumah sendiri

Sugeng Ngopi Est 2017



Sugeng Ngopi coffee shop di Kota Solo yang konsisten berdiri sejak Oktober 2017 hingga sekarang beralamat di Penumping, Kec. Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Pada awal berdiri, Sugeng Ngopi menggunakan konsep coffe shop tradisional untuk memperlihatkan karakter Sugeng Ngopi sebagai kopinya wong solo, dan selogan itu digunakan hingga sekarang. Awal tahun 2019 Sugeng Ngopi memperbaharui konsepnya menjadi coffee shop dengan perpaduan klasik dan tradisional.

Sugeng Ngopi mengadopsi konsep fresh to cup yang menyajikan pilihan kopi lokal Indonesia yang dibeli langsung dari petani dan suplayer yang sesuai standar. Untuk menjaga kekonsistenan rasa dan mutu produk, Sugeng Ngopi memilih bahan- bahan yang  berkualitas dan menemukan metode untuk menghasilkan produk- produk berkualitas dengan harga yang terjangkau.

Pada awal berdirinya,  Sugeng Ngopi berkonsep coffee shop angkringan tradisional, yang menjajakan kopi khas Sugeng Ngopi dan jajanan khas sholo seperti mendoan, banggreng atau singkong goreng, mie dok dok, dan lain sebagainya. Dengan konsep tradisional Sugeng Ngopi berhasil mencuri perhatian di mata planggan, Sugeng Ngopi semakin ramai dikunjungi, nama Sugeng Ngopi semakin terkenal di kalangan anak muda Solo.

Banyak pelanggan setia yang berkunjung dari 2017 Sugeng Ngopi awal berdiri hingga sekarang, bedasarkan obrolan dari beberapa pelanggan penyebab pelanggan setia mengunjungi Sugeng Ngopi adalah pelayanan nya yang ramah, menu yang tiada dua nya dalam arti banyak menu di Sugeng Ngopi yang jarang ada di Coffe Shop lain, selain itu sugeng Ngopi juga memiliki tempat yang luas jadi sanggat memanjakan teman- teman untuk nongkrong dan berkumpul, selain itu Sugeng Ngopi memilki fasilitas yang baik dianatanya AC dan all smooking area, mushola, indoor, outdoor, taman, parkiran luas, kamar mandi yang bersih, mushola, wifi yang sangat pantas dijadi kan workspace.


Faktanya di Sugeng Ngopi memiliki pelayanan yang baik, crew coffe shop nya sopan, ramah, pelayanannya good sttitude, tidak jarang pelanggan sangat akrab dengan para crew coffe shop dan tidak merasa sungkan karena crew nya yang sangat frindly membuat pelanggan merasa nyaman dan walaupun sendiri selalu merasa ada kawan. Selain itu di Sugeng Ngopi yang area indoor tempat duduk di sedia soffa yang membuat para pelanggan semakin nyaman dan betah serasa rumah sendiri itu yang pelanggan katakan.

Review menu minuman yang ada di Coffe Shop Sugeng Ngopi memiliki bebrapa bestseller diantaranya kopi susu kanan, kopi susu kiri, kopi sugeng, red velvet ice, smoothie strawbery, yuzu, dan yogurt. Sugeng Ngopi memiliki recipe dalam meracik kopi sehinggan minuman yang dipesan akan memiliki ciri khas Sugeng Ngopi dan rasa tanding tiada duanya karena sejak berdirinya Sugeng Ngipi selalu mempertahankan recipe dan cita rasa khas yang dimiliki. Kurang lebih ada 20an variant minuman yang ada di Sugeng Ngopi yang semua menggunakan bahan- bahan yang berkualitas dengan harga yang murah diantara 18 keatas.

Untuk menu makanan ringan andalan di Sugeng Ngopi mempunyai menu mix palter, yaitu menu sharing package yang banyak isinya dan murah harganya, berkisar harga 40an sudah mendapatkan satu trey snack yang berisi french fries, chicken stick, onion ring dengan 3 saos, saos keju, saos mayonese, saos tomat dengan porsi yang besar dan harga yang murah para pelanggan dengan rombongan selalu memsesan mix plater sebagai teman untuk menemani obrolan mereka. Selain mix plater sebagai menu andalan, ada menu yang lain juga seperti french fries, banana stick, french chesee, ayam pangsit dan lain sebagainya.

Sugeng Ngopi tempat yang sangat tepat untuk hangout bersama teman- teman, workspace yang sangat mendukung dan tempat yang pas untuk mencari suasana, malam yang indah menikmati suasana malam dan sore yang indah untuk menikmati senja di taman Sugeng.



Informasi mengenai Sugeng Ngopi lebih lengkapnya bisa kunjungi instagramnya di @sugengngopi

 

 

 

 

 

Selasa, 01 Januari 2019

Sesaji dalam ritual Adat Jawa


SESAJI DALAM RITUAL ADAT JAWA




Masyarakat Jawa yang masih setia dengan ajaran leluhurnya senantiasa melestarikan adat atau tradisi. Melestarikan yang dimaksud adalah masyarakat jawa tidak mengurangi atau menambahi adat yang semula dilakukan oleh leluhurnya dan menjalankan sebagaimana mestinya. Adat atau tradisi tersebut dapat berupa upacara-upacara adat atau ritual yang sangat kental dan erat hubungannya dengan masyarakat Jawa itu sendiri. Salah satu prosesi adat yang dilakukan masyarakat Jawa adalah kenduri atau sering disebut dengan kepungan atau kenduren, yaitu salah satu prosesi dimana orang-orang berkumpul dirumah seseorang yang punya hajat untuk melakukan doa bersama dengan dipimpin salah satu seorang kaum. Setelah acra kenduri ini selesai biasanya orang-orang akan pulang ke rumah dengan membawa berkat yang berupa sega ambegan, sega ambeng, atau sega asahan, sega wuduk atau sega gurih, segagolong, jajan pasar, buah-buahan, dan lauk pauk.
Ketika acara kenduri berlangsung, terlihat pula serangkaian sesaji atau sajen yang disajikan di tengah-tengah kepungan orang-orang yang menghadiri acara tersebut dengan duduk bersila. Sesaji tersebut terdiri dari beberapa serangkaian makanan, minuman, yang diatur sedemikian rupa diatas tambir, ada kinang, atau rokok yang diletakkan diatas cawan. Pemahaman didalam lingkungan masyarakat Jawa, sesaji bukanlah makanan setan, namun sebagai ajaran filosofis yang disampaikan melalui lambang atau simbol. Dalam sesaji terdapat banyak anekaragam makanan dan minuman yang disediakan, makanan dan minuman tersebut merupakan simbol yang masing-masing mempunyai makna tersendiri, daam tulisan ini akan dibahas makna dari serangkaian maknan dan minuman dalam sesaji atau sajen, yaitu:
  • Sega

Nasi wajib ada dalam sesaji. Sesudah nasi diolah dengan atau tanpa dicampuri bumbu dan dibuat bentuk tertentu memiliki makna khusus. Nasi yang digunakan untuk ubarampe sesaji yaitu :
a.       Sega ambegan
Sega ambegan disediakan selalu disertai lauk pauk kering dan sambal cabuk. Sega ambegan tersebut menyimbolkan sebagai permohonan manusia Jawa kepada Tuhan, agar keluarga yang masih hidup dapat memperoleh umur panjang, dan keluarga yang sudah meninggal dapat memperoleh ampunan Tuhan.
b.      Sega wuduk
Sega wuduk atau sega gurih menyimbolkan doa masyarakat Jawa untuk kanjeng Nabi SAW.
c.       Sega golong
Sega golong merupakan nasi yang dibentuk seperti bola. Sega golong ini oleh para leluhur Jawa dibuat sebanyak 7 jodho (7 pasang). Sega golong ini menyimbolkan tekad yang bulat, dan doa agar Tuhan senantiasa memberikan pitulungan atau pertolongan kepada seluruh keluarga yang sedang punya hajat.
d.      Sega tumpeng
Variasi gega tumpeng, pertama, tumpeng robyong yang disajikan dalam upacara siraman dalam acara pernikahan adat Jawa. Kedua, tumpeng mitoni yaitu digunakan pada saat syukuran kehamilan ke 7 bulan. Ketiga, tumpeng pungkur yang digunakan pada saat kematian seorang wanita atau pria yang masih lajang, tumpeng ini dipotong secara vertikal dan diletakkan saling membelakangi. Keempat, tumpeng putih yang menggambarkan kesucian, tumpeng ini digunakan untuk acara sakral. Kelima, tumpeng sega kuning yang menggambarkan kekayaan dan moral luhur, ini digunakan untuk syukuran kelahiran, pernikahan, tunangan, dan lain sebagainya. Keenam, tumpeng sega wuduk digunakan untuk peringan maulid Nabi. Berdasarkan bentuknya, yen “yen metu kudu sing mempeng”, mengajarkan agar manusia memiliki kesungguhan dan tekad dalam mencapai suatu tujuan.
  •      Gudhangan

Gudhangan sering disebut juga urap atau kluban. Dalam membuat gudhangan dalam acara kenduri atau bancakan sudah aturannya yaitu, 7 macam sayuran yang meliputi kacang panjang, kangkung, kubis, kecambah atau toge, wortel, keningkir, dan bayam. Kemudian terdapat bumbu gudangan yang juga terdiri dari 7 campuran yaitu kelapa yang diparut, cabai, kencur, bawang putih, bawang merah, gula merah, dan garam. Berdasarkan aturan yang berjumlah 7 tersebut dimaksud sebagai harapan agar mendapat pitulungan atau pertolongan Tuhan. Sementara itu kacang panjang dan kangkung dibiarkan tetap memanjang karena sebagai simbol agar pemilik hajat dipanjangkan rezekinya, umur, kesabaran, dan akal budinya.
  •   Jajan pasar

Jajanan pasar ini memiliki simbol yaitu sebagai saratan winadi. Artinya, jajanan pasar memilki makna sebagi sedekah untuk keselamatan hidup, terutama selamat dalam bidang rohani atau selamat dari gangguan lelembut (makhluk dunia astral). Jajanan pasar sebagai pengharapan agar manusia melakukan serawung atau bergaul dengan orang lain. jajanan pasar melambangkan kemakmuran. Dikarenakan pasar yang merupakan sumber dari jajanan tersebut terdapat banyak barang. Dalam wadah jajanan pasar ini sering diletakkan uang senilai satus atau seratus rupiah. Maknanya adalah kata satus yang berarti asat atau kering dan atus berarti bersih, uang satus tersebut melambangkan permohonan manusia kepada Tuhan agar orang yang memilki hajat terbebas dari segala dosa.
  • Aneka buah


Aneka buah merupakan hasil bumi yang disediakan ketika acara kenduri atau bancakan. Buah-buahan yang biasa digunakan dalam kenduri atau bancakan adalah salak, besusu, jeruk, mentimun, dan pisang. Adapun doa permohonan dari seseorang yang sedang punya hajat tersebut agar keluarganya menjadi orang-orang yang berwatak adil, berbudi luhur, dan tepat janji. Seusai kenduri seorang yang punya hajat mengambil pisang pada bagian tengahnya. Hal ini dilakukan sebagai penghayatan dan kesadaran, bahwa kehidupan orang itu sedang berada pada era kehidupan zaman madya atau kehidupan dunia. Pada zaman ini manusia belum sepenuhnya memiliki kehendak sendiri, masih terkait dengan iradah dan qudrah Tuhan., tindakan tersebut dimaksud sebagai cara untuk memasrahkan diri pada takdir Tuhan.
  •      Lauk pauk

Macam lauk pauk diantaranya peyek, gereh, krupuk, tempe goreng, thontho, perkedel, telur dadar-ceplok-rebus, dan ingkung. Lauk tersebut disajikan secara kering karena sebagai pelambang ungkapan rasa syukur manusia kepada Tuhan yang memberi hidup. Sementara itu, ingkung yang merupakan masakan ayam kampung dengan diberi bumbu opor, kelapa, dan daun salam yang biasanya diletakkan diatas nasi wuduk tersebut melambangkan kesucian atau belum berdosa, sebagaimana bayi yang masih berada di dalam rahim ibunya. Ingkung berasal dari kata Jawa ditelingkung atau diikat dengan tali, itu melambangkan sikap pasrah manusia kepada kekuasaan Tuhan.
  •   Minuman pancawarna

Dalam kenduri sering dijumpai minuman pancawarna, yaitu merah (wedang teh), kuning (wedang kunir), hitam (wedang kopi), putih (wedang putih) dan gabungan warna merah dan putih (rujak degan). Minuman pancawarna ini melambangkan sedulur papat kalima pancer. Minuman tadi melambangkan empat nafsu manusia, yaitu wedang teh melambangkan nafsu amarah, wedang kunir melambangkan nafsu supiyah, wedang kopi melambangkan nafsu aluamah, wedang putih melambangkan nafsu mutmainah, sementara rujak degan melambangkan nafsu kesentosaan jiwa (sedulur pancer).
  •   Jenang

Terdapat 4 macam jenang yang digunakan dalam acara kenduri, yaitu jenang palang, jenang pliringan, jenang abang-putih, dan jenang baro-baro.
  •  Kinang dan Rokok

Dalam kenduri selamatan orang meninggal kinang dan rokok selalu disajikan. Penggunaan kinang dan rokok sebagai ubarampe kenduri selamatan, tergantung jenis kelamin orang yang meninggal. Bila perempuan yang meninggal, kinang menjadi ubarampe-nya. Namun bila lelaki maka rokok yang menjadi ubarampenya. Kinang memiliki makna filosofis, kinang yang terdiri dari daun sirih, gamping, gambir, tembakau, dan pinang bermakna mengenang atau meminang jiwa (jiwa meminang raga). Kinang melambangkan tentang kehidupan yang saling melengkapi atau saling berkaitan anatara satu dan lainnya sehingga menjadi lengkap.
  •   Kembang dan Kemenyan

Terdapat beberapa jenis kembang yang ada dalam perlengakapan sesaji, yaitu kembang setaman, kembang telon, kembang boreh (kembang putihan), dan kembang tujuh rupa. Yang masing-masing memilki makna filosofis tersendiri. Kemenyan yang dibakar hingga mengepulkan asap harum dalam tradisi masyarakat Jawa sering dimaknai sebagai “talining iman, urubing cahya kumara, kukuse ngambah swarga, ingkan nampi Dzat ingkang Maha Kuwasa.” Artinya, bahwa selamatan yang dilaksanakan diharapkan dapat meningkatkan keimanan manusia kepada Tuhan. Tujuan selamatan digambarkan seperti urubing cahya kumara (serupa api yang berkoar-koar), melambangkan harapan manusia agar tujuannya segera tercapai. Asap kemenyan dimaknai akan membawa doa-doa manusia ke langit hingga dikabulkan oleh Tuhan.


DAFTAR PUSTAKA
Sri Wintala Achmad, Etika Jawa pedoman luhur dan prinsip hidup orang Jawa, Yogyakarta: Araska, 2018
Pendidikan Bahasa Daerah Fakultas Bhasa Seni Universitas Negeri Yogyakarta, Kejawen Jurnal Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Narasi, 2007

Kamis, 19 Juli 2018

Dedikasi para Abdi Dalem










Salam Budaya...
Abdi dalem, tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah tersebut. Tapi, teman-teman semua tau tidak apa itu abdi dalem? Nah,,, dalam tulisanku kali ini, akan membahas tentang istilah abdi dalem.
Abdi dalem makna yang sebenarnya dalam bahasa Jawa adalah “abdining budoyo”, sedangkan dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Abdinya Budaya atau pengabdi budaya, dapat diartikan juga bahwa abdi dalem adalah seseorang yang bertugas untuk membantu menjaga dan melestarikan suatu budaya, yang khususnya budaya Jawa di Masyarakat Keraton Ngayogyakarta. Abdi dalem sendri merupakan aparatur sipil Keraton sebagai pelaksana operasional di setiap organisasi yang dibentuk Sultan. Sebagai abdi dalem harus bisa menjadi contoh serta teladan bagi masyarakat, abdi dalem harus mempunyai tumindak yang baik, dan paham akan unggah-ungguh dan tata krama. Jika teman-teman pernah ke Keraton Ngayogyakarta atau Keraton Kasunanan Surakarta kalian akan menemui para abdi dalem yang sedang beraktivitas di lingkungan Keraton. Abdi dalem selalu melayani masyarakat, dan Keluarga Keraton dengan sangat baik. Jika kalian perhatikan, komunikasi diantara para abdi dalem sangat menarik, yaitu tentang bahsa yang digunakan. Bahasa yang digunakan di dalam lingkungan Keraton Ngayogyakarta adalah Bagongan, bahasa bagongan berbeda dengan bahsa Jawa pada uumumnya, dengan bahasa bagongan komunikasi antara abdi dalem tidak mengenal perbedaan derajat dan pangkat. 

Pada dasarnya semua orang bisa menjadi seorang abdi dalem, tapi taukah kalian bahwa menjadi seorang abdi dalem tidaklah mudah, butuh melewati beberapa tahapan panjang agar bisa dinobatkan dan mendapat gelar abdi dalem oleh pihak Keraton. Menjadi seorang abdi dalem harus mempunyai ketulusan hati dan keikhlasan penuh dalam pengabdiannya terhadap Keraton. Untuk menjadi seorang abdi dalem harus melewati tahapan-tahapan panjang berikut ini:

1.     Sowan Bekti

Sowan bekti adalah tahapan yang paling awal untuk menjadi seorang abdi dalem. Dalam tahapan Sowan Bekti ini calon abdi dalem dilatih agar siap dan memiliki keikhlasan hati yang penuh serta tulus dalam melayani dan mengabdikan dirinya dalam melayani Sultan dan Keraton. Tahapan sowan bekti ini dilakukan selama 4 Tahun.

2.      Magang

Magangnya abdi dalem ini bukan seperti magang yang biasanya. Magang sebagai tahapan selanjutnya setelah calon abdi dalem melakukan sowan bekti selama 4 tahun. Calon abdi dalem yang sudah menyelesaikan sowan bekti akan mendapatkan SK atau Surat Keputusan. Surat Keputusan inilah yang menandakan bahwa seseorang yang menerimanya sudah diterima sebagai abdi dalem.

3.      Sawek Jajar

Setelah melalui dua tahapan tersebut, seorang abdi dalem memasuki tahapan yang ketiga. Abdi dalem kemudian akan melalui prosesi upacara dan mendapatkan nama baru secara resmi dari Sultan. Dalam tahapan Sawek Jajar ini seorang abdi dalem sudah mulai mendapatkan kekuncah atau gaji sebesar Rp 5.000,- sebulan.

4.       Bekel Enom

Tahapan bekel enom ini merupakan tahapan dimana para abdi dalem sudah mendapat kepercayaan oleh Sultan dan pihak Keraton. Dan dalam tahapan Bekel enom inilah para abdi dalem diberikan hak untuk mendapatkan sebuah senjata yang berupa keris.

5.       Bekel Sepuh

Tahap selanjutnya adalah Bekel Sepuh, dalam tahapan ini  abdi dalem mulai mendapatkan kenaikan kekuncah atau naik gaji. Dalam tahapan ini abdi dalem akan mulai menerima kekuncah sebesar Rp 15.000,- setiap bulannya.

6.     Lurah
  Banyak masyarakat yang ingin menjadi abdi dalem, tahapan selanjutnya bagi abdi dalem yang tidak mempunyai hubungan darah dengan keraton akan diberi gelar dengan sebutan Mas Bekel, Mas Rono dan juga Mas Lurah.

7.       Werdono

Werdono ini adalah pangkat yang diberikan pada abdi dalem, seperti sinden termasuk berpangkat Werdono.

8.       Penewu

Penewu adalah sebutan bagi abdi dalem yang diberikan tugas khusus dari Sultan dan pihak Keraton.

Selain tahapan-tahapan di atas masih ada beberapa tahapan dengan drajat yang lebih tinggi dalam urutan abdi dalem seperti, Riyo Bupati Anom, Riyo Bupati Sepuh, Bupati Kliwon, Bupati Nayoko, dan yang paling tinggi derajatnya adalah Kanjeng Pangeran Haryo (KPH).
Menjadi abdi dalem memang hanya mendapatkan gaji yang tidak seberapa tapi sepelas itu alasan utama menjadi abdi dalem adalah untuk mendapatkan ketentraman dan kebahagiaan batin, sebagai wujud pengabdiannya terhadap Sultan dan Keraton dan  ada juga yang berdasarkan rasa terimakasih karena diperbolehkan tinggal di tanah milik Sultan. Hal yang diperoleh dalam menjadi abdi dalem adalah untuk mendapatkan berkah Dalem. Menurut para abdi dalem, selalu ada rejeki yang datang setelah menjadi abdi dalem.
Keberadaan abdi dalem sangat berarti, tidak hanya untuk mendukung keberlangsungan segala aktifitas di dalam keraton, tetapi juga sebagai benteng perilaku pada jaman yang semakin berubah. Seiring dengan perkembangan jaman, keraton juga memerlukan tenaga profesional, sekarang ini sudah banyak abdi dalem yang memilki pendidikan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa abdi dalem tidak selalu identik dengan orang-orang tua yang lanjut usia dan berpendidikan rendah. Perlu diketahui bahwa abdi dalem adalah orang yang memilki wawsan budaya, keahlian sekaligus dedikasi yang tinggi terhadap seni, budaya, dan tradisi. Teman-teman ada yang beminat sebagai abdi dalem? Yuk share pendapat kamu di kolom komentar.

Rabu, 18 Juli 2018

Makna Dalam Riasan Paes Ageng Pernikahan Adat Jawa



Salam Budaya....
Dalam pernikahan adat Jawa khususnya adat Solo dan Jogja sangat kental dengan kejawen yang melekat erat dalam adat tersebut. Dalam pernikahan adat Solo dan Jogja pengantin di rias sedemikian rupa seperti pasangan putri dan raja, dengan di dukung dekorasi pernikahan yang menyerupai singgasana kerajaan. Pengantin wanita dalam adat pernikahan Solo dan Jogja akan dirias menyerupai putri ayu kerajaan. Riasan tradisional adat jawa tersebut dikenal dengan nama Paes Ageng. Riasan adat Jawa atau paes ageng tersebut bukan sembarang riasan biasa, melainkan mempunyai makna dan filosofi tersendiri. Bahkan jaman dahulu, perias paes ageng harus melakukan puasa terlebih dahulu sebelum melakukan tugasnya. Semua dilakukan bukan tanpa sebab, perias diharuskan berpuasa sebelum melakukan tugasnya, bertujuan agar perias membersihkan jiwa dan menguatkan batin supaya dapat melaksanakan tugas dengan baik dan terhindar dari petaka. Cara tersebut dinilai dapat membuat pengantin yang dirias lebih cantik dan bercahaya. 
Riasan adat Jawa tradisional atau paes ageng tersebut dibagi menjadi dua yaitu, paes ageng Solo dan paes ageng Jogja yang keduanya memiliki ciri khas, dan makna yang berbeda. Dalam riasan paes ageng terdapat unsur doa dan makna yang sangat dalam di setiap atributnya. Dalam artikel ini akan dibahasan makna dari beberapa atribut yang terdapat dalam riasan paes ageng. 
1.      Cuduk Mentul 
Cunduk mentul adalah atribut pengantin wanita adat Jawa yang di pasang di kepala. Cunduk mentul dalam pernikahan adat Jawa berjumlah 1, 3, 5,7, 9 dan jumlah tersebut memiliki filosofi yang berbeda. Dalam riasan paes ageng Solo cunduk mentul biasanya berjumlah 7 atau 9. Cunduk mentul berjumlah tujuh, dalam bahasa Jawa adalah “pitu” yang kata “pitu” itu sendiri merupakan simbol dari “pitulungan” atau pertolongan. Sehingga diharapkan nantinya pengantin selalu mendapatkan pertoloangan dari Tuhan yang Maha Kuasa. Sedangkan arti cuduk mentul yang berjumlah sembilan adalah, melambangkan jumlah Walisongo. Sedangkan dalam riasan paes ageng Jogja biasanya cunduk mentul berjumlah 1, 3, 5. Cunduk mentul yang berjumlah satu menyimbolkan keesaan Tuhan. Cunduk mentul yang berjumlah tiga melambangkan simbol trimurti. Dan jumlah cunduk mentul lima melambangkan simbol rukun Islam. Dalam paes Jogja ini biasanya cunduk mentul dipasang menghadap kebelakang yang menyimbulkan bahwa wanita harus terlihat cantik dari depan maupun belakang.
2.      Gunungan
Atribut gunungan juga dipasang dikepala. Atribut gunungan tersebut memiliki filosofi tersendiri. Kenapa berbentuk gunung? Karena masyarakat Jawa terdahulu percaya bahwa gunung itu adalah tempat yang sakral, suci dan dipercaya sebagai tempat bernaungnya para Dewa. Atribut ini diletakkan di kepala pengantin wanita untuk menandakan bahwa seorang wanita harus dihormati juga oleh suaminya. Atribut gunungan ini biasanya digunakan untuk riasan paes ageng Jogja.
3.      Centhung
Atribut centung berbentuk seperti gerbang berjumlah dua yang dipasang di sisi kanan dan kiri. Centhung ini merupakan simbol gerbang kehidupan, yang artinya, seorang wanita  harus siap untuk memasuki gerbang baru dalam kehidupannya. Seorang wanita harus siap dalam memasuki kehidupan rumah tangga dan memerankan sebagai seorang istri yang baik untuk suaminya.
4.      Prada
Prada adalah riasan yang dibuat di kening pengantin wanita. Biasanya prada ini berwarna hitam dan berbentuk garis lengkung. Prada terdiri dari lengsungan besar dan lengkungan kecil. Terdapat lengkungan besar ditengah dan diapit oleh lengkungan- lengkungan kecil. Lengkungan besar tersebut menyimbulkan kebesaran Tuhan, sedangkan lengkungan kecil atau disebut dengan pengapit menyimbulkan bahwasanya istri harus siap menjadi penyeimbang dalam kehidupan rumah tangga. Dalam lengkungan tersebut terdapat tiga titik, titik ini menyimbulkan Trimurti (Dewa Brahma, Dewa Sima, dan Dewa Wisnu).
5.      Citak
Citak ini adalah yang dilukis ditengah kening seperti riasan India. Citak ini terletak ditengah-tengah kening. Citak menyimbolkan bahwa wanita harus fokus, berpandang lurus kedepan dan setia.
6.      Alis Menjangan
Alis menjangan adalah sebutan untuk bentuk alis yang bercabang seperti tanduk rusa. Didapati bahwa rusa adalah binatang yang cerdik, cerdas dan anggun. Yang mengartikan bahwasanya wanita haruslah memiliki tiga karakter tersebut.
7.      Sumping
Sumping adalah atribut yang dipakai di telinga pengantin wanita. Dimasa sekarang sumping terbuat dari lempengan logam. Dulu pada awalnya sumping yang digunakan oleh trah raja terbuat dari daun pepaya, yang daun pepaya tersebut rasanya pahit, yang menandakan bahwa istri hsrus siap merasakan berbagai kepaitan dalam rumah tangga.
8.      Kalung Sungsun
Kalung sngsun ini bersusun tiga, yang merupakan simbol dari tiga fase kehidupan yang harus dilalui oleh seorang perempuan. Tiga fase tersebut adalah kelahiran, pernikahan dan kematian. Yang artinya perempuan harus siap menghadapi fase-fase tersebut.
9.      Kelat Bahu
Kelat bahu adalah perhiasan yang dipasang dibahu pengantin wanita. Kelat bahu ini berbentuk hewan naga, karena naga dipercaya sebagai hewan yang memilki kekuatan besar. Artinya perempuan harus kuat dalam mengahadapi segala masalah yang terjadi setelah pernikahan.
10.  Gelang
Dalam riasan paes ageng, gelang yang dipakai pengantin wanita adalah gelang yang bulat tanpa putus. Ini adalah simbol cinta dan kasih sayang abadi antara pengantin wanita dan suaminya.
Uraian diatas adalah  makna di beberapa atribut dalam riasan paes ageng. Setiap daerah memilki tradisi dan adat pernikahan yang berbeda dan kita sebagai warga Indonesia wajib berbagangga dengan adanya keanekaragaman budaya dan tradisi di Indonesia.

coffee shop dengan konsep tradisonal x modern

  Coffee Shop berasa dirumah sendiri Sugeng Ngopi Est 2017 Sugeng Ngopi coffee shop di Kota Solo yang konsisten berdiri sejak Oktober ...