SESAJI
DALAM RITUAL ADAT JAWA
Masyarakat Jawa yang masih setia dengan ajaran leluhurnya
senantiasa melestarikan adat atau tradisi. Melestarikan yang dimaksud adalah
masyarakat jawa tidak mengurangi atau menambahi adat yang semula dilakukan oleh
leluhurnya dan menjalankan sebagaimana mestinya. Adat atau tradisi tersebut
dapat berupa upacara-upacara adat atau ritual yang sangat kental dan erat
hubungannya dengan masyarakat Jawa itu sendiri. Salah satu prosesi adat yang
dilakukan masyarakat Jawa adalah kenduri atau sering disebut dengan kepungan
atau kenduren, yaitu salah satu prosesi dimana orang-orang berkumpul dirumah
seseorang yang punya hajat untuk melakukan doa bersama dengan dipimpin salah
satu seorang kaum. Setelah acra kenduri ini selesai biasanya orang-orang akan
pulang ke rumah dengan membawa berkat yang berupa sega ambegan, sega ambeng,
atau sega asahan, sega wuduk atau sega gurih, segagolong, jajan pasar,
buah-buahan, dan lauk pauk.
Ketika acara kenduri berlangsung, terlihat pula serangkaian sesaji
atau sajen yang disajikan di tengah-tengah kepungan orang-orang yang menghadiri
acara tersebut dengan duduk bersila. Sesaji tersebut terdiri dari beberapa
serangkaian makanan, minuman, yang diatur sedemikian rupa diatas tambir, ada
kinang, atau rokok yang diletakkan diatas cawan. Pemahaman didalam lingkungan
masyarakat Jawa, sesaji bukanlah makanan setan, namun sebagai ajaran filosofis
yang disampaikan melalui lambang atau simbol. Dalam sesaji terdapat banyak
anekaragam makanan dan minuman yang disediakan, makanan dan minuman tersebut
merupakan simbol yang masing-masing mempunyai makna tersendiri, daam tulisan
ini akan dibahas makna dari serangkaian maknan dan minuman dalam sesaji atau
sajen, yaitu:
Nasi wajib ada
dalam sesaji. Sesudah nasi diolah dengan atau tanpa dicampuri bumbu dan dibuat
bentuk tertentu memiliki makna khusus. Nasi yang digunakan untuk ubarampe
sesaji yaitu :
a.
Sega
ambegan
Sega
ambegan disediakan selalu disertai lauk pauk kering dan sambal cabuk. Sega
ambegan tersebut menyimbolkan sebagai permohonan manusia Jawa kepada Tuhan,
agar keluarga yang masih hidup dapat memperoleh umur panjang, dan keluarga yang
sudah meninggal dapat memperoleh ampunan Tuhan.
b.
Sega
wuduk
Sega
wuduk atau sega gurih menyimbolkan doa masyarakat Jawa untuk kanjeng Nabi SAW.
c.
Sega
golong
Sega
golong merupakan nasi yang dibentuk seperti bola. Sega golong ini oleh para
leluhur Jawa dibuat sebanyak 7 jodho (7 pasang). Sega golong ini menyimbolkan
tekad yang bulat, dan doa agar Tuhan senantiasa memberikan pitulungan atau
pertolongan kepada seluruh keluarga yang sedang punya hajat.
d.
Sega
tumpeng
Variasi
gega tumpeng, pertama, tumpeng robyong yang disajikan dalam upacara siraman
dalam acara pernikahan adat Jawa. Kedua, tumpeng mitoni yaitu digunakan pada
saat syukuran kehamilan ke 7 bulan. Ketiga, tumpeng pungkur yang digunakan pada
saat kematian seorang wanita atau pria yang masih lajang, tumpeng ini dipotong
secara vertikal dan diletakkan saling membelakangi. Keempat, tumpeng putih yang
menggambarkan kesucian, tumpeng ini digunakan untuk acara sakral. Kelima,
tumpeng sega kuning yang menggambarkan kekayaan dan moral luhur, ini digunakan
untuk syukuran kelahiran, pernikahan, tunangan, dan lain sebagainya. Keenam,
tumpeng sega wuduk digunakan untuk peringan maulid Nabi. Berdasarkan bentuknya,
yen “yen metu kudu sing mempeng”, mengajarkan agar manusia memiliki kesungguhan
dan tekad dalam mencapai suatu tujuan.
Gudhangan
sering disebut juga urap atau kluban. Dalam membuat gudhangan dalam acara
kenduri atau bancakan sudah aturannya yaitu, 7 macam sayuran yang meliputi
kacang panjang, kangkung, kubis, kecambah atau toge, wortel, keningkir, dan
bayam. Kemudian terdapat bumbu gudangan yang juga terdiri dari 7 campuran yaitu
kelapa yang diparut, cabai, kencur, bawang putih, bawang merah, gula merah, dan
garam. Berdasarkan aturan yang berjumlah 7 tersebut dimaksud sebagai harapan
agar mendapat pitulungan atau pertolongan Tuhan. Sementara itu kacang panjang
dan kangkung dibiarkan tetap memanjang karena sebagai simbol agar pemilik hajat
dipanjangkan rezekinya, umur, kesabaran, dan akal budinya.
Jajanan pasar
ini memiliki simbol yaitu sebagai saratan winadi. Artinya, jajanan pasar
memilki makna sebagi sedekah untuk keselamatan hidup, terutama selamat dalam
bidang rohani atau selamat dari gangguan lelembut (makhluk dunia astral).
Jajanan pasar sebagai pengharapan agar manusia melakukan serawung atau bergaul
dengan orang lain. jajanan pasar melambangkan kemakmuran. Dikarenakan pasar
yang merupakan sumber dari jajanan tersebut terdapat banyak barang. Dalam wadah
jajanan pasar ini sering diletakkan uang senilai satus atau seratus rupiah.
Maknanya adalah kata satus yang berarti asat atau kering dan atus berarti
bersih, uang satus tersebut melambangkan permohonan manusia kepada Tuhan agar
orang yang memilki hajat terbebas dari segala dosa.
Aneka buah
merupakan hasil bumi yang disediakan ketika acara kenduri atau bancakan.
Buah-buahan yang biasa digunakan dalam kenduri atau bancakan adalah salak,
besusu, jeruk, mentimun, dan pisang. Adapun doa permohonan dari seseorang yang
sedang punya hajat tersebut agar keluarganya menjadi orang-orang yang berwatak
adil, berbudi luhur, dan tepat janji. Seusai kenduri seorang yang punya hajat
mengambil pisang pada bagian tengahnya. Hal ini dilakukan sebagai penghayatan
dan kesadaran, bahwa kehidupan orang itu sedang berada pada era kehidupan zaman
madya atau kehidupan dunia. Pada zaman ini manusia belum sepenuhnya memiliki
kehendak sendiri, masih terkait dengan iradah dan qudrah Tuhan., tindakan
tersebut dimaksud sebagai cara untuk memasrahkan diri pada takdir Tuhan.
Macam lauk pauk
diantaranya peyek, gereh, krupuk, tempe goreng, thontho, perkedel, telur
dadar-ceplok-rebus, dan ingkung. Lauk tersebut disajikan secara kering karena
sebagai pelambang ungkapan rasa syukur manusia kepada Tuhan yang memberi hidup.
Sementara itu, ingkung yang merupakan masakan ayam kampung dengan diberi bumbu
opor, kelapa, dan daun salam yang biasanya diletakkan diatas nasi wuduk
tersebut melambangkan kesucian atau belum berdosa, sebagaimana bayi yang masih
berada di dalam rahim ibunya. Ingkung berasal dari kata Jawa ditelingkung atau
diikat dengan tali, itu melambangkan sikap pasrah manusia kepada kekuasaan
Tuhan.
Dalam kenduri
sering dijumpai minuman pancawarna, yaitu merah (wedang teh), kuning (wedang
kunir), hitam (wedang kopi), putih (wedang putih) dan gabungan warna merah dan
putih (rujak degan). Minuman pancawarna ini melambangkan sedulur papat kalima
pancer. Minuman tadi melambangkan empat nafsu manusia, yaitu wedang teh
melambangkan nafsu amarah, wedang kunir melambangkan nafsu supiyah, wedang kopi
melambangkan nafsu aluamah, wedang putih melambangkan nafsu mutmainah,
sementara rujak degan melambangkan nafsu kesentosaan jiwa (sedulur pancer).
Terdapat 4
macam jenang yang digunakan dalam acara kenduri, yaitu jenang palang, jenang
pliringan, jenang abang-putih, dan jenang baro-baro.
Dalam kenduri
selamatan orang meninggal kinang dan rokok selalu disajikan. Penggunaan kinang
dan rokok sebagai ubarampe kenduri selamatan, tergantung jenis kelamin orang
yang meninggal. Bila perempuan yang meninggal, kinang menjadi ubarampe-nya.
Namun bila lelaki maka rokok yang menjadi ubarampenya. Kinang memiliki makna
filosofis, kinang yang terdiri dari daun sirih, gamping, gambir, tembakau, dan
pinang bermakna mengenang atau meminang jiwa (jiwa meminang raga). Kinang
melambangkan tentang kehidupan yang saling melengkapi atau saling berkaitan
anatara satu dan lainnya sehingga menjadi lengkap.
Terdapat
beberapa jenis kembang yang ada dalam perlengakapan sesaji, yaitu kembang
setaman, kembang telon, kembang boreh (kembang putihan), dan kembang tujuh
rupa. Yang masing-masing memilki makna filosofis tersendiri. Kemenyan yang
dibakar hingga mengepulkan asap harum dalam tradisi masyarakat Jawa sering
dimaknai sebagai “talining iman, urubing cahya kumara, kukuse ngambah swarga,
ingkan nampi Dzat ingkang Maha Kuwasa.” Artinya, bahwa selamatan yang
dilaksanakan diharapkan dapat meningkatkan keimanan manusia kepada Tuhan.
Tujuan selamatan digambarkan seperti urubing cahya kumara (serupa api yang
berkoar-koar), melambangkan harapan manusia agar tujuannya segera tercapai.
Asap kemenyan dimaknai akan membawa doa-doa manusia ke langit hingga dikabulkan
oleh Tuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Sri Wintala Achmad, Etika Jawa pedoman luhur dan prinsip hidup
orang Jawa, Yogyakarta: Araska, 2018
Pendidikan Bahasa Daerah Fakultas Bhasa Seni Universitas Negeri
Yogyakarta, Kejawen Jurnal Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Narasi, 2007