Selasa, 01 Januari 2019

Sesaji dalam ritual Adat Jawa


SESAJI DALAM RITUAL ADAT JAWA




Masyarakat Jawa yang masih setia dengan ajaran leluhurnya senantiasa melestarikan adat atau tradisi. Melestarikan yang dimaksud adalah masyarakat jawa tidak mengurangi atau menambahi adat yang semula dilakukan oleh leluhurnya dan menjalankan sebagaimana mestinya. Adat atau tradisi tersebut dapat berupa upacara-upacara adat atau ritual yang sangat kental dan erat hubungannya dengan masyarakat Jawa itu sendiri. Salah satu prosesi adat yang dilakukan masyarakat Jawa adalah kenduri atau sering disebut dengan kepungan atau kenduren, yaitu salah satu prosesi dimana orang-orang berkumpul dirumah seseorang yang punya hajat untuk melakukan doa bersama dengan dipimpin salah satu seorang kaum. Setelah acra kenduri ini selesai biasanya orang-orang akan pulang ke rumah dengan membawa berkat yang berupa sega ambegan, sega ambeng, atau sega asahan, sega wuduk atau sega gurih, segagolong, jajan pasar, buah-buahan, dan lauk pauk.
Ketika acara kenduri berlangsung, terlihat pula serangkaian sesaji atau sajen yang disajikan di tengah-tengah kepungan orang-orang yang menghadiri acara tersebut dengan duduk bersila. Sesaji tersebut terdiri dari beberapa serangkaian makanan, minuman, yang diatur sedemikian rupa diatas tambir, ada kinang, atau rokok yang diletakkan diatas cawan. Pemahaman didalam lingkungan masyarakat Jawa, sesaji bukanlah makanan setan, namun sebagai ajaran filosofis yang disampaikan melalui lambang atau simbol. Dalam sesaji terdapat banyak anekaragam makanan dan minuman yang disediakan, makanan dan minuman tersebut merupakan simbol yang masing-masing mempunyai makna tersendiri, daam tulisan ini akan dibahas makna dari serangkaian maknan dan minuman dalam sesaji atau sajen, yaitu:
  • Sega

Nasi wajib ada dalam sesaji. Sesudah nasi diolah dengan atau tanpa dicampuri bumbu dan dibuat bentuk tertentu memiliki makna khusus. Nasi yang digunakan untuk ubarampe sesaji yaitu :
a.       Sega ambegan
Sega ambegan disediakan selalu disertai lauk pauk kering dan sambal cabuk. Sega ambegan tersebut menyimbolkan sebagai permohonan manusia Jawa kepada Tuhan, agar keluarga yang masih hidup dapat memperoleh umur panjang, dan keluarga yang sudah meninggal dapat memperoleh ampunan Tuhan.
b.      Sega wuduk
Sega wuduk atau sega gurih menyimbolkan doa masyarakat Jawa untuk kanjeng Nabi SAW.
c.       Sega golong
Sega golong merupakan nasi yang dibentuk seperti bola. Sega golong ini oleh para leluhur Jawa dibuat sebanyak 7 jodho (7 pasang). Sega golong ini menyimbolkan tekad yang bulat, dan doa agar Tuhan senantiasa memberikan pitulungan atau pertolongan kepada seluruh keluarga yang sedang punya hajat.
d.      Sega tumpeng
Variasi gega tumpeng, pertama, tumpeng robyong yang disajikan dalam upacara siraman dalam acara pernikahan adat Jawa. Kedua, tumpeng mitoni yaitu digunakan pada saat syukuran kehamilan ke 7 bulan. Ketiga, tumpeng pungkur yang digunakan pada saat kematian seorang wanita atau pria yang masih lajang, tumpeng ini dipotong secara vertikal dan diletakkan saling membelakangi. Keempat, tumpeng putih yang menggambarkan kesucian, tumpeng ini digunakan untuk acara sakral. Kelima, tumpeng sega kuning yang menggambarkan kekayaan dan moral luhur, ini digunakan untuk syukuran kelahiran, pernikahan, tunangan, dan lain sebagainya. Keenam, tumpeng sega wuduk digunakan untuk peringan maulid Nabi. Berdasarkan bentuknya, yen “yen metu kudu sing mempeng”, mengajarkan agar manusia memiliki kesungguhan dan tekad dalam mencapai suatu tujuan.
  •      Gudhangan

Gudhangan sering disebut juga urap atau kluban. Dalam membuat gudhangan dalam acara kenduri atau bancakan sudah aturannya yaitu, 7 macam sayuran yang meliputi kacang panjang, kangkung, kubis, kecambah atau toge, wortel, keningkir, dan bayam. Kemudian terdapat bumbu gudangan yang juga terdiri dari 7 campuran yaitu kelapa yang diparut, cabai, kencur, bawang putih, bawang merah, gula merah, dan garam. Berdasarkan aturan yang berjumlah 7 tersebut dimaksud sebagai harapan agar mendapat pitulungan atau pertolongan Tuhan. Sementara itu kacang panjang dan kangkung dibiarkan tetap memanjang karena sebagai simbol agar pemilik hajat dipanjangkan rezekinya, umur, kesabaran, dan akal budinya.
  •   Jajan pasar

Jajanan pasar ini memiliki simbol yaitu sebagai saratan winadi. Artinya, jajanan pasar memilki makna sebagi sedekah untuk keselamatan hidup, terutama selamat dalam bidang rohani atau selamat dari gangguan lelembut (makhluk dunia astral). Jajanan pasar sebagai pengharapan agar manusia melakukan serawung atau bergaul dengan orang lain. jajanan pasar melambangkan kemakmuran. Dikarenakan pasar yang merupakan sumber dari jajanan tersebut terdapat banyak barang. Dalam wadah jajanan pasar ini sering diletakkan uang senilai satus atau seratus rupiah. Maknanya adalah kata satus yang berarti asat atau kering dan atus berarti bersih, uang satus tersebut melambangkan permohonan manusia kepada Tuhan agar orang yang memilki hajat terbebas dari segala dosa.
  • Aneka buah


Aneka buah merupakan hasil bumi yang disediakan ketika acara kenduri atau bancakan. Buah-buahan yang biasa digunakan dalam kenduri atau bancakan adalah salak, besusu, jeruk, mentimun, dan pisang. Adapun doa permohonan dari seseorang yang sedang punya hajat tersebut agar keluarganya menjadi orang-orang yang berwatak adil, berbudi luhur, dan tepat janji. Seusai kenduri seorang yang punya hajat mengambil pisang pada bagian tengahnya. Hal ini dilakukan sebagai penghayatan dan kesadaran, bahwa kehidupan orang itu sedang berada pada era kehidupan zaman madya atau kehidupan dunia. Pada zaman ini manusia belum sepenuhnya memiliki kehendak sendiri, masih terkait dengan iradah dan qudrah Tuhan., tindakan tersebut dimaksud sebagai cara untuk memasrahkan diri pada takdir Tuhan.
  •      Lauk pauk

Macam lauk pauk diantaranya peyek, gereh, krupuk, tempe goreng, thontho, perkedel, telur dadar-ceplok-rebus, dan ingkung. Lauk tersebut disajikan secara kering karena sebagai pelambang ungkapan rasa syukur manusia kepada Tuhan yang memberi hidup. Sementara itu, ingkung yang merupakan masakan ayam kampung dengan diberi bumbu opor, kelapa, dan daun salam yang biasanya diletakkan diatas nasi wuduk tersebut melambangkan kesucian atau belum berdosa, sebagaimana bayi yang masih berada di dalam rahim ibunya. Ingkung berasal dari kata Jawa ditelingkung atau diikat dengan tali, itu melambangkan sikap pasrah manusia kepada kekuasaan Tuhan.
  •   Minuman pancawarna

Dalam kenduri sering dijumpai minuman pancawarna, yaitu merah (wedang teh), kuning (wedang kunir), hitam (wedang kopi), putih (wedang putih) dan gabungan warna merah dan putih (rujak degan). Minuman pancawarna ini melambangkan sedulur papat kalima pancer. Minuman tadi melambangkan empat nafsu manusia, yaitu wedang teh melambangkan nafsu amarah, wedang kunir melambangkan nafsu supiyah, wedang kopi melambangkan nafsu aluamah, wedang putih melambangkan nafsu mutmainah, sementara rujak degan melambangkan nafsu kesentosaan jiwa (sedulur pancer).
  •   Jenang

Terdapat 4 macam jenang yang digunakan dalam acara kenduri, yaitu jenang palang, jenang pliringan, jenang abang-putih, dan jenang baro-baro.
  •  Kinang dan Rokok

Dalam kenduri selamatan orang meninggal kinang dan rokok selalu disajikan. Penggunaan kinang dan rokok sebagai ubarampe kenduri selamatan, tergantung jenis kelamin orang yang meninggal. Bila perempuan yang meninggal, kinang menjadi ubarampe-nya. Namun bila lelaki maka rokok yang menjadi ubarampenya. Kinang memiliki makna filosofis, kinang yang terdiri dari daun sirih, gamping, gambir, tembakau, dan pinang bermakna mengenang atau meminang jiwa (jiwa meminang raga). Kinang melambangkan tentang kehidupan yang saling melengkapi atau saling berkaitan anatara satu dan lainnya sehingga menjadi lengkap.
  •   Kembang dan Kemenyan

Terdapat beberapa jenis kembang yang ada dalam perlengakapan sesaji, yaitu kembang setaman, kembang telon, kembang boreh (kembang putihan), dan kembang tujuh rupa. Yang masing-masing memilki makna filosofis tersendiri. Kemenyan yang dibakar hingga mengepulkan asap harum dalam tradisi masyarakat Jawa sering dimaknai sebagai “talining iman, urubing cahya kumara, kukuse ngambah swarga, ingkan nampi Dzat ingkang Maha Kuwasa.” Artinya, bahwa selamatan yang dilaksanakan diharapkan dapat meningkatkan keimanan manusia kepada Tuhan. Tujuan selamatan digambarkan seperti urubing cahya kumara (serupa api yang berkoar-koar), melambangkan harapan manusia agar tujuannya segera tercapai. Asap kemenyan dimaknai akan membawa doa-doa manusia ke langit hingga dikabulkan oleh Tuhan.


DAFTAR PUSTAKA
Sri Wintala Achmad, Etika Jawa pedoman luhur dan prinsip hidup orang Jawa, Yogyakarta: Araska, 2018
Pendidikan Bahasa Daerah Fakultas Bhasa Seni Universitas Negeri Yogyakarta, Kejawen Jurnal Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Narasi, 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

coffee shop dengan konsep tradisonal x modern

  Coffee Shop berasa dirumah sendiri Sugeng Ngopi Est 2017 Sugeng Ngopi coffee shop di Kota Solo yang konsisten berdiri sejak Oktober ...