Kamis, 19 Juli 2018

Dedikasi para Abdi Dalem










Salam Budaya...
Abdi dalem, tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah tersebut. Tapi, teman-teman semua tau tidak apa itu abdi dalem? Nah,,, dalam tulisanku kali ini, akan membahas tentang istilah abdi dalem.
Abdi dalem makna yang sebenarnya dalam bahasa Jawa adalah “abdining budoyo”, sedangkan dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai Abdinya Budaya atau pengabdi budaya, dapat diartikan juga bahwa abdi dalem adalah seseorang yang bertugas untuk membantu menjaga dan melestarikan suatu budaya, yang khususnya budaya Jawa di Masyarakat Keraton Ngayogyakarta. Abdi dalem sendri merupakan aparatur sipil Keraton sebagai pelaksana operasional di setiap organisasi yang dibentuk Sultan. Sebagai abdi dalem harus bisa menjadi contoh serta teladan bagi masyarakat, abdi dalem harus mempunyai tumindak yang baik, dan paham akan unggah-ungguh dan tata krama. Jika teman-teman pernah ke Keraton Ngayogyakarta atau Keraton Kasunanan Surakarta kalian akan menemui para abdi dalem yang sedang beraktivitas di lingkungan Keraton. Abdi dalem selalu melayani masyarakat, dan Keluarga Keraton dengan sangat baik. Jika kalian perhatikan, komunikasi diantara para abdi dalem sangat menarik, yaitu tentang bahsa yang digunakan. Bahasa yang digunakan di dalam lingkungan Keraton Ngayogyakarta adalah Bagongan, bahasa bagongan berbeda dengan bahsa Jawa pada uumumnya, dengan bahasa bagongan komunikasi antara abdi dalem tidak mengenal perbedaan derajat dan pangkat. 

Pada dasarnya semua orang bisa menjadi seorang abdi dalem, tapi taukah kalian bahwa menjadi seorang abdi dalem tidaklah mudah, butuh melewati beberapa tahapan panjang agar bisa dinobatkan dan mendapat gelar abdi dalem oleh pihak Keraton. Menjadi seorang abdi dalem harus mempunyai ketulusan hati dan keikhlasan penuh dalam pengabdiannya terhadap Keraton. Untuk menjadi seorang abdi dalem harus melewati tahapan-tahapan panjang berikut ini:

1.     Sowan Bekti

Sowan bekti adalah tahapan yang paling awal untuk menjadi seorang abdi dalem. Dalam tahapan Sowan Bekti ini calon abdi dalem dilatih agar siap dan memiliki keikhlasan hati yang penuh serta tulus dalam melayani dan mengabdikan dirinya dalam melayani Sultan dan Keraton. Tahapan sowan bekti ini dilakukan selama 4 Tahun.

2.      Magang

Magangnya abdi dalem ini bukan seperti magang yang biasanya. Magang sebagai tahapan selanjutnya setelah calon abdi dalem melakukan sowan bekti selama 4 tahun. Calon abdi dalem yang sudah menyelesaikan sowan bekti akan mendapatkan SK atau Surat Keputusan. Surat Keputusan inilah yang menandakan bahwa seseorang yang menerimanya sudah diterima sebagai abdi dalem.

3.      Sawek Jajar

Setelah melalui dua tahapan tersebut, seorang abdi dalem memasuki tahapan yang ketiga. Abdi dalem kemudian akan melalui prosesi upacara dan mendapatkan nama baru secara resmi dari Sultan. Dalam tahapan Sawek Jajar ini seorang abdi dalem sudah mulai mendapatkan kekuncah atau gaji sebesar Rp 5.000,- sebulan.

4.       Bekel Enom

Tahapan bekel enom ini merupakan tahapan dimana para abdi dalem sudah mendapat kepercayaan oleh Sultan dan pihak Keraton. Dan dalam tahapan Bekel enom inilah para abdi dalem diberikan hak untuk mendapatkan sebuah senjata yang berupa keris.

5.       Bekel Sepuh

Tahap selanjutnya adalah Bekel Sepuh, dalam tahapan ini  abdi dalem mulai mendapatkan kenaikan kekuncah atau naik gaji. Dalam tahapan ini abdi dalem akan mulai menerima kekuncah sebesar Rp 15.000,- setiap bulannya.

6.     Lurah
  Banyak masyarakat yang ingin menjadi abdi dalem, tahapan selanjutnya bagi abdi dalem yang tidak mempunyai hubungan darah dengan keraton akan diberi gelar dengan sebutan Mas Bekel, Mas Rono dan juga Mas Lurah.

7.       Werdono

Werdono ini adalah pangkat yang diberikan pada abdi dalem, seperti sinden termasuk berpangkat Werdono.

8.       Penewu

Penewu adalah sebutan bagi abdi dalem yang diberikan tugas khusus dari Sultan dan pihak Keraton.

Selain tahapan-tahapan di atas masih ada beberapa tahapan dengan drajat yang lebih tinggi dalam urutan abdi dalem seperti, Riyo Bupati Anom, Riyo Bupati Sepuh, Bupati Kliwon, Bupati Nayoko, dan yang paling tinggi derajatnya adalah Kanjeng Pangeran Haryo (KPH).
Menjadi abdi dalem memang hanya mendapatkan gaji yang tidak seberapa tapi sepelas itu alasan utama menjadi abdi dalem adalah untuk mendapatkan ketentraman dan kebahagiaan batin, sebagai wujud pengabdiannya terhadap Sultan dan Keraton dan  ada juga yang berdasarkan rasa terimakasih karena diperbolehkan tinggal di tanah milik Sultan. Hal yang diperoleh dalam menjadi abdi dalem adalah untuk mendapatkan berkah Dalem. Menurut para abdi dalem, selalu ada rejeki yang datang setelah menjadi abdi dalem.
Keberadaan abdi dalem sangat berarti, tidak hanya untuk mendukung keberlangsungan segala aktifitas di dalam keraton, tetapi juga sebagai benteng perilaku pada jaman yang semakin berubah. Seiring dengan perkembangan jaman, keraton juga memerlukan tenaga profesional, sekarang ini sudah banyak abdi dalem yang memilki pendidikan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa abdi dalem tidak selalu identik dengan orang-orang tua yang lanjut usia dan berpendidikan rendah. Perlu diketahui bahwa abdi dalem adalah orang yang memilki wawsan budaya, keahlian sekaligus dedikasi yang tinggi terhadap seni, budaya, dan tradisi. Teman-teman ada yang beminat sebagai abdi dalem? Yuk share pendapat kamu di kolom komentar.

Rabu, 18 Juli 2018

Makna Dalam Riasan Paes Ageng Pernikahan Adat Jawa



Salam Budaya....
Dalam pernikahan adat Jawa khususnya adat Solo dan Jogja sangat kental dengan kejawen yang melekat erat dalam adat tersebut. Dalam pernikahan adat Solo dan Jogja pengantin di rias sedemikian rupa seperti pasangan putri dan raja, dengan di dukung dekorasi pernikahan yang menyerupai singgasana kerajaan. Pengantin wanita dalam adat pernikahan Solo dan Jogja akan dirias menyerupai putri ayu kerajaan. Riasan tradisional adat jawa tersebut dikenal dengan nama Paes Ageng. Riasan adat Jawa atau paes ageng tersebut bukan sembarang riasan biasa, melainkan mempunyai makna dan filosofi tersendiri. Bahkan jaman dahulu, perias paes ageng harus melakukan puasa terlebih dahulu sebelum melakukan tugasnya. Semua dilakukan bukan tanpa sebab, perias diharuskan berpuasa sebelum melakukan tugasnya, bertujuan agar perias membersihkan jiwa dan menguatkan batin supaya dapat melaksanakan tugas dengan baik dan terhindar dari petaka. Cara tersebut dinilai dapat membuat pengantin yang dirias lebih cantik dan bercahaya. 
Riasan adat Jawa tradisional atau paes ageng tersebut dibagi menjadi dua yaitu, paes ageng Solo dan paes ageng Jogja yang keduanya memiliki ciri khas, dan makna yang berbeda. Dalam riasan paes ageng terdapat unsur doa dan makna yang sangat dalam di setiap atributnya. Dalam artikel ini akan dibahasan makna dari beberapa atribut yang terdapat dalam riasan paes ageng. 
1.      Cuduk Mentul 
Cunduk mentul adalah atribut pengantin wanita adat Jawa yang di pasang di kepala. Cunduk mentul dalam pernikahan adat Jawa berjumlah 1, 3, 5,7, 9 dan jumlah tersebut memiliki filosofi yang berbeda. Dalam riasan paes ageng Solo cunduk mentul biasanya berjumlah 7 atau 9. Cunduk mentul berjumlah tujuh, dalam bahasa Jawa adalah “pitu” yang kata “pitu” itu sendiri merupakan simbol dari “pitulungan” atau pertolongan. Sehingga diharapkan nantinya pengantin selalu mendapatkan pertoloangan dari Tuhan yang Maha Kuasa. Sedangkan arti cuduk mentul yang berjumlah sembilan adalah, melambangkan jumlah Walisongo. Sedangkan dalam riasan paes ageng Jogja biasanya cunduk mentul berjumlah 1, 3, 5. Cunduk mentul yang berjumlah satu menyimbolkan keesaan Tuhan. Cunduk mentul yang berjumlah tiga melambangkan simbol trimurti. Dan jumlah cunduk mentul lima melambangkan simbol rukun Islam. Dalam paes Jogja ini biasanya cunduk mentul dipasang menghadap kebelakang yang menyimbulkan bahwa wanita harus terlihat cantik dari depan maupun belakang.
2.      Gunungan
Atribut gunungan juga dipasang dikepala. Atribut gunungan tersebut memiliki filosofi tersendiri. Kenapa berbentuk gunung? Karena masyarakat Jawa terdahulu percaya bahwa gunung itu adalah tempat yang sakral, suci dan dipercaya sebagai tempat bernaungnya para Dewa. Atribut ini diletakkan di kepala pengantin wanita untuk menandakan bahwa seorang wanita harus dihormati juga oleh suaminya. Atribut gunungan ini biasanya digunakan untuk riasan paes ageng Jogja.
3.      Centhung
Atribut centung berbentuk seperti gerbang berjumlah dua yang dipasang di sisi kanan dan kiri. Centhung ini merupakan simbol gerbang kehidupan, yang artinya, seorang wanita  harus siap untuk memasuki gerbang baru dalam kehidupannya. Seorang wanita harus siap dalam memasuki kehidupan rumah tangga dan memerankan sebagai seorang istri yang baik untuk suaminya.
4.      Prada
Prada adalah riasan yang dibuat di kening pengantin wanita. Biasanya prada ini berwarna hitam dan berbentuk garis lengkung. Prada terdiri dari lengsungan besar dan lengkungan kecil. Terdapat lengkungan besar ditengah dan diapit oleh lengkungan- lengkungan kecil. Lengkungan besar tersebut menyimbulkan kebesaran Tuhan, sedangkan lengkungan kecil atau disebut dengan pengapit menyimbulkan bahwasanya istri harus siap menjadi penyeimbang dalam kehidupan rumah tangga. Dalam lengkungan tersebut terdapat tiga titik, titik ini menyimbulkan Trimurti (Dewa Brahma, Dewa Sima, dan Dewa Wisnu).
5.      Citak
Citak ini adalah yang dilukis ditengah kening seperti riasan India. Citak ini terletak ditengah-tengah kening. Citak menyimbolkan bahwa wanita harus fokus, berpandang lurus kedepan dan setia.
6.      Alis Menjangan
Alis menjangan adalah sebutan untuk bentuk alis yang bercabang seperti tanduk rusa. Didapati bahwa rusa adalah binatang yang cerdik, cerdas dan anggun. Yang mengartikan bahwasanya wanita haruslah memiliki tiga karakter tersebut.
7.      Sumping
Sumping adalah atribut yang dipakai di telinga pengantin wanita. Dimasa sekarang sumping terbuat dari lempengan logam. Dulu pada awalnya sumping yang digunakan oleh trah raja terbuat dari daun pepaya, yang daun pepaya tersebut rasanya pahit, yang menandakan bahwa istri hsrus siap merasakan berbagai kepaitan dalam rumah tangga.
8.      Kalung Sungsun
Kalung sngsun ini bersusun tiga, yang merupakan simbol dari tiga fase kehidupan yang harus dilalui oleh seorang perempuan. Tiga fase tersebut adalah kelahiran, pernikahan dan kematian. Yang artinya perempuan harus siap menghadapi fase-fase tersebut.
9.      Kelat Bahu
Kelat bahu adalah perhiasan yang dipasang dibahu pengantin wanita. Kelat bahu ini berbentuk hewan naga, karena naga dipercaya sebagai hewan yang memilki kekuatan besar. Artinya perempuan harus kuat dalam mengahadapi segala masalah yang terjadi setelah pernikahan.
10.  Gelang
Dalam riasan paes ageng, gelang yang dipakai pengantin wanita adalah gelang yang bulat tanpa putus. Ini adalah simbol cinta dan kasih sayang abadi antara pengantin wanita dan suaminya.
Uraian diatas adalah  makna di beberapa atribut dalam riasan paes ageng. Setiap daerah memilki tradisi dan adat pernikahan yang berbeda dan kita sebagai warga Indonesia wajib berbagangga dengan adanya keanekaragaman budaya dan tradisi di Indonesia.

coffee shop dengan konsep tradisonal x modern

  Coffee Shop berasa dirumah sendiri Sugeng Ngopi Est 2017 Sugeng Ngopi coffee shop di Kota Solo yang konsisten berdiri sejak Oktober ...